Lompat ke isi utama

Berita

Uji Petik Dikira Petugas Suntik

Aceh Tamiang | Bawaslu - Matahari agak redup meski jam sedang beranjak siang. Hari Senin 12 Juli 2021,  Saya, Linda, Ricki dan Zakir menuju Desa Alur Cucur, Kecamatan Rantau, tujuannya untuk melakukan uji petik delapan warga yang masuk dalam kategori pemilih baru dalam Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) priode Juni 2021. Untuk mencapai desa tersebut dari Kota Kuala Simpang setidaknya harus menempuh jarak sepanjang 13 kilo meter, kondisi jalan berbelok-belok sedikitnya membutuhkan konsentrasi sopir dalam mengemudi kenderaan. Dilintasan jalan pemandangan indah terhidang, rumah dibahu bukit, perkebunan warga, pasar tradisional, aneka warung makanan, dan pemandangan terakhir, hemm.. sedikit bermasalah, banyak warga berjualan durian, membuat hasrat atau Hawa (pingin) mencicipi muncul, pun berdasarkan kabar banyak durian berasa tawar bela-kangan ini. Kita tinggalkan penjual durian dulu. Akhirnya kami sampai dipersimpangan 3, tepat didepan komplek Pertamina EP Rantau Field. Pagar perusahaan minyak dan gas yang telah memaku di kawasan ini  sejak tahun 1928, memutar “Kita sudah dekat, belok kiri,” kata Linda yang duduk dibangku depan. Benar saja Google Maps juga mengabarkan 5 menit lagi sudah sampai ditujuan. Namun letak persis kantor desa (kampung) tujuan kami menjumpai aparatur desa tak terdeteksi google maps. Akhirnya agar lebih cepat, Zakir kami fungsikan sebagai Google Maps manual, Zakir turun dan bertanya langsung kepada warga, betul saja, lokasi kantor desa memang tak begitu jauh lagi. Warga menunjuk ke arah kiri, katanya persimpangan didepan, belok kiri, ketemu sekolah, disanalah kantor Datok, begitulah sebutan orang di Kabupaten Aceh Tamiang untuk kantor Desa. Setiba dikantor Datok, Linda duluan turun, dipintu masuk kantor ia  memberi salam. Seorang perempuan muda menjawab salam dan mempersilakan masuk, ia mengenalkan nama  Ela,  yang kemudian kami tahu  dia adalah Sekretaris Kampung Alur Cucur. Ela saat itu tak sendirian, sedikitnya ada 3 perempuan lain di kantor Datok yang sedang sibuk dengan kerjaan masing-masing. Kami menjelaskan maksud dan tujuan, sembari menampakkan data Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) priode juni yang kami peroleh dari Komisi Independen pemilihan (KIP) Aceh Tamiang,  Ela mengangguk-ngangguk pertanda memahami maksud dan tujuan kami. Ia memanggil seorang staf kerjanya sembari menanyakan beberapa lokasi rumah dari daftar nama yang tertulis dalam lembaran itu. Mereka terlihat serius, stafnya menunjukkan lembaran, sambil berucap, ini disana rumahnya, kalau ini saudara saya. Ela juga menghubungi beberapa kepala dusun, namun hari itu Kadus yang masuk dalam daftar nama tersebut sedang sibuk, ada hajatan kawinan yang harus mereka layani. “Biar kami temani, biar mudah,” kata Ela sambil melempar senyum kepada kami. Tak menunggu lama, kami menuju ke sasaran yang pertama, tepatnya ke Dusun Tamiang, ini adalah pemilih baru, berjenis kelamin  perempuan. Sampai disana sasaran yang dituju sedang tak berada ditempat, ia sedang berkunjung ke kecamatan lain dengan satu keperluan. Kemudian kami menuju ke sasaran berikutnya yang lumayan sedikit jauh berputar dari sasaran pertama, disasaran kedua sedikitnya ada dua pemilih baru yang harus kami uji petik, salah satunya bernama Rabiaton Anawiyah. Sampai dirumahnya, 3 orang anak usia 4-5 tahun sedang bermain di tangga. “Mamak bawa adek sebentar,”kata salah seorang anak memberi kabar kepada kami. Kami memilih menunggu, dalam penungguan itu, pemandangan rawa-rawa dikawasan itu lumayan menghias mata. Entah dari rumah tetangga, tiba-tiba seorang ibu paruh baya datang menjumpai kami dan buk sekdes. “Apa ini suntik vaksin ya ? tanya ibu itu serius.  Buk Sekdes, Ricki, Zakir, dan Linda senyum-senyum mendengar pertanyaan itu. “Kami bukan suntik buk, tapi kami sedang uji petik pemilih baru untuk keperluan pemilu dan pilkada nanti,”jawab saya sambil menjelaskan. “Ooooo saya pikir suntik,” katanya mengulang, terus ia pamit pulang. Kami pun melanjutkan tugas uji petik, bukan suntik. (*)
Tag
Berita
Publikasi